الأحد، 17 فبراير 2013


TULISAN KOSONG

Hidup ini hampa
Hidup ini kosong
Hidup ini hanyalah beban saja
Hidup ini tiada lain hanyalah tong sampah kosong
Menunggu dipenuhi sampah-sampah yang berserakan

Mengapa demikian???

Hidup ini indah
Hidup ini  makna
Hidup ini dipenihi cahaya berkilauan
Hidup ini seperti berenang dilautan permata
Gemerlapan, penuh dengan kedamaian
Sehingga ingin rasanya selamanya berada disini

Benarkah demikian???

Keduanya adalah benar …
Semuanya tentang hidup adalah benar
Kosong adalah benar
Indah juga benar
Hampa, bermakna itu juga benar
Namun sebenarnya apa yang membedakannya?
mengapa persoalan beradu dalam duka dalam
mengapa ada air mata?
mengapa juga mesti tertawa?

Mengapa dan mengapa ….?

Renungkanlah sejenak ….
Mengapa ada udara tapi disebut juga angin
Padahal kedua istilah itu adalah sama

Mengapa juga begitu banyak macam air
Padahal semuanya sama juga

Mengapa dan mengapa….?

Berpikirlah ….
Renungkanlah ….
Diamlah sesaat ….
Pikirkanlah semuanya ….
Itu adalah bagian dari hidupmu
Karena hidup adalah untuk berpikir
Berpikirlah mengapa kita ada hari ini

Mau apa?
Mau kemana?
Bersama siapa?
Mengapa kesana?

Banyak sekali pertanyaan harus dijawab
Temukanlah jawabannya
Buatlah hidupmu dengan segala rencanamu
Terencana dan teratur
Jangan sampai hampa atau kosong
Semoga indah
Pikirkanlah
Jadikan bermakna hidup kita
Jangan seperti tulisan ini
Terlihat rancu
Entah apa tujuannya
Setiap susunan katanya membingkan
Karena memang taka da rencana

Jangan jadikan hidupmu seperti tulisan ini.
(Renno Febrian)

الأربعاء، 13 فبراير 2013

Air Mata Di Pagi Buta

Semilir angin terasa sejuk saat menerpa kulit
Bulu-bulu halus ditangan berdiri menyambutnya
Ku buka jendela dan ku tatap langit
Tak Nampak berkas cahaya menerangi belahan bumi
Hanya hitam dan Nampak gumpalan awan kelam
Sepertinya hujan akan turun pagi ini
Hujan….???
Air hujan merupakan air terbersih setelah di teliti oleh para ilmuan
Jadi pada dasarnya hujan adalah anugrah dari sang pencipta
Namun lain ceritanya saat ini
Entahlah apa yang terjadi dengan bumi yang kita injak ini
Sepertinya ada suatu kejanggalan
Tatkala anugrah berubah menjadi musibah
Kumpulan air hujan tumpah ruah ke daratan
Memporakporandakan sepenggal kehidupan manusia
Merenggut banyak nyawa
Melumpuhkan segala aktivitas
Aku jadi semakin terbelenggu
Sesaat aku diam dan hanya diam
Pikiranku bergelut dalam menentukan kenyataan
Sukar membedakan antara anugrah dan musibah
Aku dan mungkin seagian dari orang-orang disekitarku
Tapi
Ini semua adalah kehendak sang Pencipta
Kita mesti tabah menjalaninya
Mencoba belajar untuk berbenah diri
Dan bersabar dalam menghadapinya
Biarlah kita pasrahkan saja kepada-Nya
Mungkin hari esok akan lebih baik
Dan pasti lebih baik selama kita mencoba
Mencoba untuk memperbaiki diri.
(Renno Febrian)  

SUNYI

Kau terasa berdiam diri
Dalam kesendirianmu disana                                                                                    
Tiada angin yang berhembus
Seakan enggan menyapa

Tiada bisik….derit pohon bambu….
Serasa membisu
Sunyinya mala mini tiada senandung lagu
Hanya dendang lagu kasmaran
Yang membuai diri
Dalam angan yang terus berlari
Seakan enggan berhenti
Menggapai mimpi-mimpi
Dalam denting kesunyian hati
Berharap kau hadir disini
Menyapaku kembali

الثلاثاء، 12 فبراير 2013

10 Jemari emas


10 Jemari Emas
Hancur……ku tau semunya sudah hilang
dan aku juga tau semua tak kan kembali
Biarlah …
Hancurlah sudah semuanya
Tak perlu ada sisa
Tak usah ada yang menoleh
Sekalipun badai itu terasa begitu menyakitkan
Mengoyak, menyiksa, memporakporandakan kehidupanku
Hingga mataku kehilangan arah tujuannya
Hatiku tak mampu membedakan lagi rasa
Jiwaku terbang entah kemana
Melayang ….. tinggi …. Dan berharap
Berharap ada sinar dating membimbingnya
Membawanya kembali ke tempatnya yang kini tengah kosong dalam kehampaan
Namun batin ini kuat pada akarnya
Sekalipun air mata telah menjadi ribuan sungai yang mengalir
Dan terperosok ke dalam lembah yang begitu dalam
Hitam kelam tanpa cahaya
Kehidupanpun masih harus dijalani
Hitam ataukah putih sudah tak jadi lagi tolak ukur
Meronta saat hitam menguasai raga
Memelas saat putih sesaat singgah
Bersujud dalam bayangan semu
Seraya memohon belas kasihan
Kulihat Engkau mengulurkan tangan hidayah-Mu
Seperti ingin aku melangkah ke arahmu
Namun mungkin itu hanya perasaanku saja yang kosong
Tapi itu seperti nyata
Lagi-lagi batinku selalu berkata
Ini akan berahkir
Hanya sesaat
Kuatkanlah dan kembalilah
Pada jalanmu yang sempat hilang
Bertahanlah disana hingga tak ada pemisah antara kau dan diri-Nya
Sesaat aku tersenyum
Namun kemudian ku merasa itu tak pasti
Tubuhku sudah lemah dan kehilangan gairahnya
Pikiranku sudah tak bisa lagi aku kendalikan
Hanya satu yang masih membuatku bertahan
Aku punya lamunan dari sepenggalkenyataan hidup
Serta sepuluh jemari emas yang sepertinya semakin bertambah kuat
Dan hanya itulah yang aku miliki
Saat ini
Namun itulah awal dari semua yang baru
(Renno febrian)